MANAJEMEN SUMBERDAYA BUDAYA KOTA MAKASSAR “MENUJU STATUS KOTA DUNIA”

Main Article Content

Budianto Hakim

Abstract

Era Millenium ditandai dengan dunia yang semakin bordeless. Kota-kota di dunia berlomba meraih World Status, dalam perjuangan merebut status kota dunia maka kota harus berdaya tarik kuat untuk membangun citra dirinya. Kota-kota tersebut bersaing adu pamor yang digali dari perjalanan sejarah kota, bangsa dan Negara. Kota yang melestarikan dan mendayagunakan peninggalan arkeologisnya, khususnya bangunan bersejarah sebagai sebuah ciri, citra dan lambang kebanggaan kotanya. Sejalan dengan itu, lalu apa dengan kota Makassar?. Tujuan dari tulisan ini, untuk mencari jatidiri Makassar di masa lalu. Metode yang digunakan diantaranya, pengumpulan data dan pengklasifikasian data yang kemudian diinterpretasi untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil dari penulisan ini bahwa kompleksitas konflik kepentingan yang terjadi di wilayah perkotaan bukanlah hal mudah untuk dijembatani. Perencanaan kota dalam hal ini pemerintah dan stekholdenta hendaknya duduk bersama untuk menciptakan sebuah kota yang memiliki suatu kesatuan sistem organisasi yang bersifat sosial, visual, maupun fisik yang terancang secara terpadu.

Article Details

Section
Articles

References

Gunadi, Kasnowihardjo. 2001. “Manajemen Sumberdaya Arkeologi”. Makassar: Lephas Universitas Hasanuddin.

Gunadi. 1997. “Kelestarian dan Pelestarian Bangunan Indis di Jawa Tengah”. DIA VIII.

Ghadafi, 2004, “Bangunan Indis Makassar: Pelestarian dan Problematikanya”. Walennae No 11. Makassar: Balai Arkeologi Makassar.

Polinggomang, Edward. 2005. “Sejarah Bandar Makassar. Makalah dalam bpembentukan Asosiasi Pantai Kuno.

Sumalyo, Yulianto. 1999. “Ujungpandang: Perkembangan Kota dan Arsitektur pada akhir abad 17 hingga awal abad 20”, dalam Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Dennys Lombard. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Yayasan Obor Indonesia.

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>