BENDE WUTA (BENTENG TANAH) DALAM KONTEKS SEJARAH BUDAYA MEKONGGA SULAWESI TENGGARA

Main Article Content

nfn Hasanuddin

Abstract

This research was conducted in Wundulako, Kolaka, Southeast Sulawesi, which express the geographic location of the fort the ground, and it contains a number of artifacts through survei and excavation methods. Archaeological data in said Collaborate with tradition and geological data. Citadel Land (Bende Wuta) was established by Latoranga the XVII century (around 1676). Survei data to produce findings of a metal currency (coins), fragments of pottery and ceramics. Excavation data showed the existence of the artificial soil structure and modification of forms of material available in the vicinity. From the comparative aspect that shows the shape of the blockhouse and fortified the settlement as well as the king and his family. Besides, the position of land fort called Wuta Bende is 471 m from the river showed Lamekongga maintaining a strategic position in the kingdom's sovereignity Mekongga.


Penelitian ini dilakukan di Wundulako, Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang mengungkapkan lokasi geografis benteng alam, dan berisi sejumlah artefak melalui metode survei dan ekskavasi. Data arkeologi di katakan Berkolaborasi dengan data tradisi dan geologi. Citadel Land (Bende Wuta) didirikan oleh Latoranga pada abad XVII (sekitar 1676). Survei data untuk menghasilkan temuan mata uang logam (koin), pecahan tembikar dan keramik. Data penggalian menunjukkan adanya struktur tanah buatan dan modifikasi bentuk bahan yang tersedia di sekitarnya. Dari aspek komparatif yang menunjukkan bentuk benteng yang melindungi raja dan keluarganya. Selain itu, posisi benteng tanah yang disebut Wuta Bende berjarak 471 m dari sungai menunjukkan Lamekongga mempertahankan posisi strategis dalam kedaulatan kerajaan Mekongga.

Article Details

Section
Articles

References

Amelia. 2003. "Numismatik, Pertaliannya dengan Arkeologi sebagai Kajian Ilmu: Teknis-Analisis terhadap Artefak Mata Uang" dalam Cakrawala Arkeologi Persembahan untuk Prof. Dr. Mundardjito. Depok: Universitas Indonesia.

Arifin, Munaser. 2006. Sangia Nibandera Penyebar Agama Islam di Tanah Mekongga. Kendari: PD Percetakan Sultra.

Barker, Philip. 1977. The Techniques of Archaeological Excavation. New York: Universe Books.

Elbert, Johannes, Dr. 1911. Sunda Expedi¬tion, Durch Die Landschaft Mekongga. Hal. 249 - 282.

Fadillah, Moh. Ali. 2004. "Penelitian Arkeologi Islam di Sulawesi Selatan dan Kontribusinya dalam Pengembangan Kebudayaan Nasional" dalam Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan (ed. Iwan Sumantri). Makassar: Ininnawa.

Hardesty, D.L. 1977. Ecological Anthropol¬ogy. New York: Jhon Wiley and Sons.

Hodder, Ian. 1986. Reading the Past, Current Approaches to Interpreta¬tion in Archaeology. Cambridge: University Press.

Koentjaraningrat. 1985. Ritus Peralihan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Mujib. 1995. "Spesifikasi Benteng-Benteng di Kawasan Bengkulu pada Masa Kolonial Inggeris" Berkala Arkeologi Tahun XV Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi.

Mundarjito. 1999. "Arkeologi Keruangan: Konsep dan Cara Kerjanya" Pertemuan Ilmiah Arkeologi VIII. Jakarta: Puslit Arkenas.

Mundarjito. 1993. "Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Skala Makro". Disertasi, Fak.SastraU.I.

Ramelan, Wiwin Djuwita. 1989. "Beberapa Pendekatan Konseptual Antropologi Ekologi: Kemungkinan Penerapannya dalam Penelitian Arkeologi Ekologi" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V hal. 232-247. Jakarta: Puslit Arkenas.

Sharer, Robert J. and Ashmore, Wendy. 1979. Fundamentals of Archaeol¬ogy. California: The Benjamin.

Subroto, Ph. 1983. "Studi tentang Pola Pemukiman Arkeologi Kemungkinan-Kemungkinan Penerapannya di Indonesia" Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, hal. 1176-1186. Jakarta: Puslit Arkenas.

Most read articles by the same author(s)